Menikmati Dunia Suram The Last of Us
Saya lagi nonton The Last of Us Series Season 2. Series ini sebenarnya sudah tayang sejak Mei 2025 lalu, tapi saya baru sempat menontonnya sekarang. Total ada 8 episode, dan saya memilih menikmatinya pelan-pelan. Yah, sehari satu episode lah.
The Last of Us adalah series bertema
post-apocalyptic, di mana dunia dipenuhi zombie. Yang menarik, berbeda dengan
kebanyakan film post-apocalyptic yang biasanya hanya berfokus pada perlawanan
melawan zombie, di series ini musuh utama bukan cuma zombie, tapi juga tentara
dan kelompok penjagal.
Series ini diadaptasi dari game PlayStation 4
dengan judul yang sama, yang juga cukup seru untuk dimainkan. Jalan ceritanya
kurang lebih mirip dengan versi game, meskipun di season 2 ada beberapa
perbedaan yang cukup mengejutkan. Salah satunya, Joel (karakter utamanya) mati.
Saya memang belum selesai menontonnya, tapi rasanya agak aneh juga melihat
karakter utama bisa hilang begitu saja.
Film dan series bertema post-apocalyptic
memang salah satu genre favorit saya. Banyak judul dari genre ini yang sudah
saya ikuti, baik film maupun game. Mulai dari Resident Evil, I Am Legend
(Will Smith), World
War Z, produksi Korea seperti Train to Busan, hingga The Last of Us
ini.
Saya selalu suka melihat suasana yang
digambarkan. Kota-kota yang sunyi, gedung-gedung tinggi yang hancur lalu
dipenuhi tanaman liar, supermarket penuh makanan kadaluarsa, dan berbagai
detail kecil lainnya. Belum lagi gambaran sifat asli manusia, insting bertahan
hidup, ego, serta naluri dasar yang terasa sangat nyata di cerita-cerita
seperti ini.
Ini foto iseng yang saya buat menggunakan AI. Membayangkan diri saya menjadi Joel, sementara anak saya menjadi Ellie. Rasanya menyenangkan bisa membayangkan diri ada di dunia The Last of Us, meskipun tentu saja semua itu sebatas hiburan. Bagaimanapun juga, film, series, dan game seperti ini hanya asyik untuk dinikmati dan dibayangkan. Tidak perlu atau tidak pernah diharapkan benar-benar terjadi di dunia nyata.

Komentar
Posting Komentar