Centre Point of Indonesia (CPI) Makassar
Makassar terus berkembang sebagai kota metropolitan, dan Centre Point of Indonesia (CPI) adalah salah satu bukti nyata dari perkembangan tersebut. Terletak di kawasan pesisir Makassar, CPI memiliki lokasi yang strategis dimana lokasinya berdekatan dengan Pantai Losari dan memiliki akses yang cukup terjangkau dari pusat kota. Kawasan ini dibangun di atas lahan reklamasi, sebuah upaya untuk menambah kapasitas wilayah perkotaan yang semakin padat.
CPI dirancang sebagai pusat bisnis dan hunian modern. Gedung-gedung bertingkat tinggi yang berdiri di sini mencerminkan wajah baru Makassar sebagai kota modern yang lebih tertata. Salah satu landmark yang paling dikenal dari kawasan ini adalah Masjid 99 Kubah, yang dengan arsitekturnya yang unik telah menjadi ikon baru kota Makassar.
Namun, CPI bukan hanya sekadar pusat bisnis dan hunian, tetapi juga telah menjadi ruang publik yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Setiap hari, banyak orang datang ke sini untuk berolahraga, baik itu jogging, bersepeda, atau sekadar berjalan santai. Tak hanya itu, kawasan ini juga menjadi surga bagi para fotografer yang mencari rezeki melalui aplikasi Foto Yu, yang memungkinkan pengunjung mengunduh foto mereka saat beraktivitas di sana. Seperti gambar di bawah ini contohnya. Hehehe.
Pada awal pembangunannya, banyak masyarakat Makassar yang khawatir CPI akan menjadi kawasan eksklusif dimana hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tinggal di sana. Namun, kenyataannya, kawasan ini tetap bisa diakses oleh masyarakat umum. Meski begitu, CPI juga bukanlah ruang yang sepenuhnya inklusif. Tidak ada pengamen, pengemis, pedagang kaki lima atau pemulung yang bisa ditemui di sana. Bisa dikatakan bahwa CPI berada di tengah-tengah, tidak eksklusif, tapi juga tidak benar-benar inklusif. Mungkin lebih tepat jika disebut sebagai kawasan semi-eksklusif atau kawasan selektif terbuka, di mana semua orang boleh masuk, tetapi dengan aturan tertentu yang harus dipatuhi.
Menurut saya pribadi, dibandingkan dengan ketakutan awal masyarakat, realitas CPI saat ini tidaklah buruk. Setidaknya, akses masih terbuka bagi semua orang yang ingin menikmati suasana kawasan ini.
Namun, pertanyaan besar yang masih tersisa adalah dampak lingkungan dari proyek reklamasi ini. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda signifikan mengenai dampak lingkungan yang merugikan. Namun, kita perlu ingat bahwa alam tidak selalu langsung bereaksi terhadap gangguan. Terkadang, ia diam dan menunggu, lalu ketika waktunya tiba, dampaknya bisa sangat besar dan sulit diprediksi. Hal ini bukan berarti pasti akan terjadi loh ya, dan juga bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pengingat agar kita selalu waspada.
Saya selalu percaya pada kata-kata almarhum guru kehidupan saya bahwa segala sesuatu yang dibangun oleh manusia, sekecil apa pun, pasti akan berpengaruh terhadap lingkungan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bukan untuk menyalahkan manusia atas apa yang dibangunnya, tetapi agar kita selalu ingat untuk berusaha mengurangi dampak yang akan timbul akibat pembangunan tersebut.
Secara keseluruhan, saya pribadi sangat menikmati waktu di CPI. Baik untuk sekadar duduk di kafe sambil bekerja, berolahraga, berjalan santai, atau menikmati sunset dan suasana malam yang gemerlap. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, CPI telah menjadi bagian dari wajah baru Makassar, sebuah tempat yang modern, nyaman, dan tetap bisa dinikmati oleh banyak orang, meski dengan aturan tertentu yang membatasinya.

Komentar
Posting Komentar