Pemandangan yang Menjauh
Ada pemandangan yang cukup untuk membuat seseorang tercengang hanya dengan sekali pandang. Begitu pula yang aku rasakan. Dari kejauhan, ia tampak begitu indah, seolah memanggil, seolah menjanjikan ketenangan dan kehidupan yang lebih baik. Dalam hati, keinginan untuk berada di sana tumbuh perlahan, namun bersamaan dengan itu, kegelisahan pun ikut bergejolak.
Aku bertanya-tanya, apakah tempat itu memang seindah jika ditinggali seperti ketika dipandang dari jauh? Atau justru keindahannya hanya pantas dinikmati sebagai jarak? Aku tak pernah tahu, sebab aku belum pernah benar-benar sampai ke sana. Jaraknya terlihat jauh, tapi terasa masih dalam jangkauan.
Meski ragu, aku tetap memutuskan untuk melangkah. Kukemas kemah dan barang-barangku ke dalam ranselku lalu pergi meninggalkan tempat peristirahatanku saat itu.
Namun perjalanan tak semudah yang ku bayangkan. Semakin jauh aku melangkah, kakiku semakin lelah. Anehnya, pemandangan yang kutuju terlihat semakin menjauh. Namun, langkah kakiku serasa ingin terus mendekat dan kompas ku seolah tak mengenal arah lain selain ke sana.
Aku mulai bertanya dalam hati. Apa sebenarnya yang ada di sana? Kenapa harus begitu sulit sampai di sana? Rasa penasaran memaksaku untuk terus berjalan. Lalu ada dataran tinggi yang harus kudaki membuat napasku semakin berat, kaki semakin letih. Tapi entah kanapa langkah ini tetap tak juga mau berhenti.
Dan tetap saja, semakin banyak repetisi langkah yang kuambil, pemandangan itu malah makin terasa jauh.
Di tengah perjalanan yang begitu melelahkan, pertanyaan muncul lagi, kali ini sambil tertawa kecil dalam hati, apakah pemandangan itu berlari dariku? Apakah ia takut padaku? Takut pada apa yang kubawa? Aku tak berniat merusak, tak membawa gergaji untuk menebang pohon, tak ingin menggunduli atau menguasai apa pun. Aku hanya ingin membangun kemah kecil dan tinggal, menjadikannya tempat kembali dan beristirahat.
Keraguan pun perlahan tumbuh. Langkahku kian melambat. Dalam hati, aku mulai bertanya dengan lebih sungguh-sungguh: mungkinkah jarak ini memang sengaja diciptakan Tuhan agar aku berhenti? Barangkali ada sesuatu di sana yang belum, atau bahkan tak perlu, kuketahui. Atau mungkin ini sebuah petunjuk bahwa dugaanku sejak awal memang benar, jika aku benar-benar sampai di sana, keindahannya tak akan seutuh seperti saat kupandang dari kejauhan.
Aku pun menoleh ke belakang. Jejak kakiku terbentang panjang dan sunyi. Baru kusadari, aku telah berjalan begitu jauh, namun tak pernah benar-benar sampai.
Akhirnya, aku berhenti. Beristirahat di bawah pohon besar, meneguk air minum yang kubawa. Angin sepoi-sepoi menyapaku lembut, seolah mengatakan, kamu tidak perlu berjalan lebih jauh lagi.
Di sanalah aku mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan kesana. Berhenti memandangnya dan berhenti bertanya-tanya dalam hati. Karena jawaban tidak diperlukan lagi, ketika sesuatu hal meninggalkan terlalu banyak pertanyaan.

Komentar
Posting Komentar