Pengalaman Diet Rebus-Rebusan Selama Dua Bulan
Tahun lalu saya memulai percobaan diet ini. Tepatnya pada bulan Mei 2025. Sebenarnya, saya sudah merencanakannya sejak Januari 2025. Namun, karena alasan tertentu, saya baru menjalankannya pada Mei 2025.
Saya ingin sedikit bercerita. Selama ini saya memiliki timbangan badan manual dengan jarum penunjuk. Timbangan itu selalu menunjukkan berat badan saya di kisaran 66–67 kg. Dengan tinggi badan 166 cm, saya merasa berat badan tersebut sudah cukup ideal. Namun, pada bulan Januari, saya mencoba mengganti timbangan badan saya dengan timbangan digital. Ternyata selama ini berat badan saya sebenarnya berada di angka 69–70 kg. Ya, selisihnya sekitar 3 kg.
Terus terang, saya cukup kaget karena selama ini sudah merasa puas dengan angka yang ditunjukkan timbangan jarum tersebut. Saya kemudian mencari referensi tentang mana yang lebih akurat antara timbangan digital dan timbangan jarum. Hampir semua referensi menyebutkan bahwa timbangan digital lebih akurat. Namun, di saat yang sama, saya juga menemukan referensi bahwa berat badan bukanlah satu-satunya patokan, melainkan lingkar perut juga penting diperhatikan.
Lingkar perut saya saat itu sekitar 89–90 cm. Tentu saja ini bukan hal yang baik, mengingat risiko terkena penyakit metabolik meningkat jika lingkar pinggang melebihi 90 cm. Akhirnya, saya mulai merencanakan diet. Namun, saat Januari itu saya belum benar-benar siap menjalaninya. Meski begitu, saya sudah memiliki gambaran tentang pola diet yang ingin saya lakukan.
Kemudian tibalah bulan April. Saya mulai menyusun jadwal makan saya. Saya menghitung kalori setiap makanan yang akan saya konsumsi setiap hari menggunakan aplikasi FatSecret. Akhirnya, saya mulai menjalankan diet tersebut pada Mei 2025.
Berikut adalah jadwal makan saya selama diet. Pada pagi hari, saya makan tahu rebus tanpa bumbu. Pada siang hari, saya makan tempe rebus, ayam rebus, kentang rebus, dan sayuran. Pada malam hari, saya makan dua butir telur rebus. Hampir setiap hari saya tidak makan nasi maupun gorengan. Saya menjalani pola makan ini setiap hari. Agar tidak terlalu tersiksa, pada sore hari saya biasanya minum cafe mocha. Sekaligus agar saya memiliki energi untuk berolahraga. Jika malam hari terasa terlalu lapar, biasanya saya makan sekitar 20 butir kacang kulit atau buncis yang direndam air panas.
Hasil pada bulan pertama, yaitu Juni, benar-benar luar biasa. Berat badan saya turun dari 70 kg menjadi 66 kg di timbangan digital. Saya kemudian melanjutkannya selama satu bulan berikutnya hingga Juli 2025. Berat badan saya kembali turun hingga mencapai 62 kg. Itu benar-benar menjadi titik terbaik saya. Tubuh saya terlihat sangat ramping dengan lingkar pinggang sekitar 83–84 cm. Saya juga sempat melakukan pemeriksaan laboratorium di Makassar, dan hasilnya semuanya bagus tanpa satu pun indikator yang bermasalah.
Tubuh terasa lebih ringan, berlari tidak lagi terasa berat, dan aktivitas sehari-hari pun tidak mudah membuat lelah. Namun, karena penurunan berat badan terjadi terlalu cepat dan drastis, tubuh saya, terutama bagian lengan, terlihat sangat kecil. Bahkan otot yang sebelumnya sempat saya latih juga ikut menyusut. Beberapa orang bahkan mengira saya baru saja sakit atau terlihat seperti orang yang sedang sakit.
Saya pun mencoba mengevaluasi kembali kondisi tubuh saya. Saya bercermin, merekam video diri sendiri, bahkan sengaja berlari di tempat-tempat yang memiliki spot foto agar bisa melihat bentuk tubuh saya dengan lebih jelas. Sejujurnya, saya pribadi sangat puas dengan hasilnya. Hanya saja, karena selama ini terbiasa melihat diri saya lebih gemuk, saya merasa tubuh saya menjadi sangat kecil dan kurus, terutama pada bagian upper body. Beberapa teman yang rutin gym bahkan menyarankan saya untuk melakukan bulking. Bulking adalah menambah asupan kalori sambil melatih otot agar massa otot meningkat.
Akhirnya, saya mencoba melakukannya. Saya kembali makan nasi dengan porsi protein yang lebih banyak. Saya juga membeli dumbbell yang lebih berat dan mulai melatih gerakan-gerakan upper body di kamar kos. Hasilnya, pada bulan berikutnya berat badan saya naik menjadi 64 kg. Berat badan tersebut bertahan cukup lama hingga tahun 2026. Sekarang berat badan saya berada di angka 66 kg.
Meski begitu, sejujurnya diet yang saya lakukan memang sangat efektif. Tubuh tidak menjadi lemas dan rasa lapar juga tidak terlalu menyiksa seperti saat menjalani diet IF. Selain itu, hampir tidak ada masalah maupun keluhan lain yang saya rasakan. Namun, kekurangan dari pola diet seperti ini adalah rasanya sangat membosankan. Bayangkan saja, selama dua bulan saya tidak makan nasi dan gorengan. Tentu hal tersebut terasa sangat membosankan. Selain itu, ketika ada ajakan makan enak seperti palekko, biasanya saya jadi kalap makan. Bagaimanapun juga, kita tetap manusia biasa.
Meskipun setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda, dan apa yang cocok untuk saya belum tentu cocok untuk orang lain, saya berharap cerita ini bisa bermanfaat. Semoga pengalaman saya ini dapat menjadi referensi diet bagi siapa pun yang membacanya, baik sekarang maupun di masa depan nanti

Komentar
Posting Komentar