Refleksi Diri di CPI

Sedang berada di Makassar untuk tugas luar, sore itu saya langsung menuju CPI (Centre Point of Indonesia). Seperti biasa, saya membina raga: lari, jalan cepat, lalu berakhir dengan jalan santai. Dari pukul lima sore hingga mendekati delapan malam, ritmenya berubah pelan-pelan. Niat interval run akhirnya kalah oleh kondisi tubuh, dan saya memilih bertahan pada durasi, sekitar dua setengah jam termasuk jeda untuk salat dan minum.

Langkah demi langkah membuat pikiran ikut bergerak. Hal-hal praktis bercampur dengan yang lebih jauh. Tanggung jawab, pengelolaan uang, bayangan lima sampai sepuluh tahun ke depan, keterampilan yang belum dikuasai, kemungkinan memulai bisnis, sampai pertanyaan-pertanyaan kecil tentang beban di gym dan disiplin lari pagi.

Anehnya, semua itu tidak terasa berat. Bangunan-bangunan CPI yang tertata rapi membuat langkah lebih ringan. Pikiran mengalir tanpa harus dipaksa, sampai sebuah kalimat muncul begitu saja, entah dari ingatan lama atau benar-benar baru.

"Petinju yang menolak menyerah tetapi tidak mau mengubah cara bertarungnya, sama saja membiarkan dirinya dipukul jatuh berkali-kali."

Kalimat itu mengingatkan saya pada ungkapan yang sering dikaitkan dengan Einstein tentang kegilaan. Yaitu melakukan hal yang sama berulang-ulang sambil berharap hasil yang berbeda. Keduanya bertemu di satu titik yang sama, bertahan tanpa berubah hanya memperpanjang rasa sakit.




Kegagalan, penolakan, atau kekalahan selalu menyisakan pilihan. Ada yang memilih berhenti. Ada yang tetap berjalan dengan cara lama. Ada pula yang mencoba menjalani sulitnya perubahan dan mencoba meningkatkan peluang, meski tanpa jaminan menang, hanya bermodal keyakinan diri. Yang terakhir setidaknya akan tetap membuka kemungkinan, sementara dua yang pertama menutupnya sejak awal.

Jam tangan menunjukkan pukul 19.15. Kaki mulai berat, ritme melambat. Saya berhenti sejenak, memeriksa napas dan denyut jantung, lalu kembali melangkah. Bukan tiga puluh menit seperti rencana awal, tapi lebih lama, sekitar empat puluh lima menit, hingga CPI perlahan sepi dan menyisahkan lampu-lampu yang sangat indah.

Saya selesai sedikit lewat pukul delapan malam. Tubuh lelah, tapi ada ketenangan yang tertinggal. Setidaknya hari itu, saya tahu sudah melakukan sesuatu yang baik untuk diri sendiri. Saya pulang, mandi, dan tidur dengan lebih nyenyak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tabel ITBX dalam RDTR: Jantung Pengaturan Tata Ruang

Centre Point of Indonesia (CPI) Makassar

Pemandangan yang Menjauh