Selfie dan Self Comment

Di coffee shop, dua teman nongkrong.

Nama mereka Dana dan Giring.
Giring: “Kok kamu sering banget selfie?”
Dana: “Karena selfie bikin aku bisa komentar dan kritik diri sendiri.”
Giring: “Hahaha kurang kerjaan banget.”
Dana: “Kurang kerjaan mana cuma komentari diri sendiri… atau komentari orang lain?”
Giring: “…iya juga sih.”
Dana: “Jelas lah. Komentarin diri sendiri = self focus. Komentarin orang lain = gosip. Kalau sering… itu akhirnya bisa jadi fitnah.”
Giring: “Tapi kan belum tentu gosip. Bisa aja kritik. Kritik orang kan boleh?”
Dana: “Boleh. Silakan. Komentar pun sebenarnya boleh. Cuma pertanyaannya: buat apa dulu?”
“Kalau buat obrolan santai biar ada topik ngobrol sama orang lain… oke.
"Kalau kamu memang mau bantu orang itu berkembang dan melihat kekurangannya… oke. Bagus. Apalagi kalau orangnya memang minta”
“Tapi kalau lebih dari itu… sudah tidak ada gunanya.”
Giring: "Tapi namanya komentar kan tidak selalu harus negatif toh? Bisa positif juga"
Dana: “Yup. komentar tidak harus negatif. Komentar bisa netral. Bisa positif.”
"Tapi ini yang orang jarang sadar. Self comment itu merubah kita untuk jadi lebih baik. Sementara komentar ke orang lain itu biasanya tidak akan merubah apa-apa"
Giring: “Maksudnya?”
Dana: “Kamu ga bisa ngontrol orang lain berdasarkan sudut pandangmu. Tapi kamu bisa ngontrol dirimu sendiri.”
“Kamu komentar 10 baris tentang orang lain… Mau positif negatif, tidak ada jaminan dia berubah 1 milimeter pun.”
“Tapi kamu komentar 1 baris jujur tentang dirimu sendiri… kamu bisa berubah 1 kilometer.”
Giring: “Oke saya paham, tapi orang kan belum tentu bisa liat dari sudut pandang kita tentang dirinya. Bisa jadi dia berada di jalan yang salah pada jalan yang dia anggap benar"
Dana: “ Nah, kalau dia lagi ada di jalan yang menurut dia benar… kamu tidak bisa paksa dia pindah jalur.”
"Kadang… orang baru tau jalur itu salah… setelah nabrak tembok sendiri.”
Giring: “Jadi kita diem aja?”
Dana: “Bukan juga”
“Kalau kamu care sama orang itu… kamu bisa kasih warning.”
“Kasih input. Kasih sudut pandang.”
“Tapi setelah itu… Kembalikan ke dia.”
Giring: “Jadi tidak perlu maksa ya.”
Dana: “Iya.”
“Karena maksa itu bukan nolong.”
“Maksa itu… Ngambil kemudi hidup orang.”
Giring: “….”
Dana: “Dan itu yang banyak orang suka lakuin tapi dia ga sadar.”
“Mereka komentar ke orang lain bukan dari ‘care’…”
“Tapi dari ingin membentuk orang itu sesuai keinginan atau kepentingan mereka, bukan dari keinginan atau kepentingan yang bersangkutan”
Giring: “Jadi idealnya gimana?”
Dana: “Komentar ke orang lain seperlunya. Lalu kembalikan ke dia”
"Kita tidak pernah punya data utuh 100% orang lain, bahkan jika kita keluarga terdekatnya sekalipun."
"Tapi kita punya data utuh 100% diri kita sendiri lengkap dengan timelinenya"
"Jadi komentar ke diri sendiri harus sesering mungkin.”
Giring:
“Jadi begitu toh alasan kamu sering sekali selfie?”
Dana:
“Jangankan selfie, saya sering bikin video saat olahraga, merekam suara saat membaca, atau memfoto hasil-hasil kerja saya”
“Karena menurut saya…
Orang paling jujur melihat dan mengoreksi diri kita sendiri adalah diri kita sendiri...
Namun dengan cara memposisikan diri kita dari luar”
Giring: 'Oke seruput kopinya dulu. Nanti kalau tidak enak, kopinya kita suruh selfie hahaha"
Dana: "Hahaha. Dasar"




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tabel ITBX dalam RDTR: Jantung Pengaturan Tata Ruang

Centre Point of Indonesia (CPI) Makassar

Pemandangan yang Menjauh