Selfie dan Self Comment
Banyak orang menganggap aktivitas mengambil foto selfie, merekam video saat olahraga, mendengarkan rekaman suara sendiri, hingga memotret hasil karya pribadi sebagai bentuk narsis atau sekadar mencari perhatian. Padahal, ada alasan mendasar yang jauh lebih jujur di balik kebiasaan tersebut: sebuah upaya memposisikan diri dari luar untuk melihat, mengomentari, dan mengevaluasi diri sendiri secara obyektif.
Dalam interaksi sehari-hari, masyarakat sangat terbiasa melemparkan komentar kepada orang lain. Namun, ada batas tegas yang jarang disadari antara kepedulian dan keinginan untuk mengontrol. Mengomentari kehidupan orang lain sering kali berisiko bergeser menjadi gosip, bahkan fitnah. Kalaupun niatnya adalah memberi kritik positif untuk membantu orang lain berkembang, kenyataannya manusia tidak pernah memegang kendali atas perubahan orang lain. Tulisan sepanjang sepuluh baris yang dialamatkan kepada orang lain belum tentu menggeser sudut pandang mereka satu milimeter pun. Sebaliknya, satu kalimat komentar yang jujur terhadap diri sendiri mampu membawa perubahan hingga berjarak satu kilometer.
Hal ini terjadi karena manusia tidak pernah memiliki data utuh seratus persen mengenai perjalanan hidup orang lain, bahkan pada keluarga terdekat sekalipun. Setiap orang berjalan di atas persepsinya masing-masing, dan acap kali seseorang baru menyadari jalurnya keliru setelah menabrak temboknya sendiri. Ketika rasa peduli muncul, tindakan terbaik sejatinya hanyalah memberikan masukan atau peringatan seperlunya, lalu mengembalikan seluruh keputusan kepada yang bersangkutan. Memaksa orang lain berubah sesuai sudut pandang pribadi bukanlah bentuk pertolongan, melainkan upaya merebut kemudi kehidupan orang lain demi memuaskan keinginan sendiri.
Satu-satunya sosok yang memiliki data utuh seratus persen (lengkap dengan seluruh lini masa, alasan, dan perasaannya) adalah diri sendiri. Kendati demikian, menilai diri sendiri dari dalam pikiran sering kali terkendala oleh bias dan pembelaan diri. Melalui media visual atau auditori seperti foto dan rekaman, seseorang meminjam sudut pandang luar untuk mengamati dirinya secara lebih dingin dan jujur.
Pengamatan mendalam terhadap diri sendiri adalah kunci utama pertumbuhan pribadi. Komentar yang diarahkan keluar cenderung sia-sia karena kendali penuh tetap berada di tangan orang lain. Sementara itu, komentar yang ditujukan ke dalam selalu berpotensi mengubah arah hidup menuju versi yang lebih baik. Pengamat dan pengoreksi paling jujur bagi diri kita adalah kita sendiri, selama kita berani berdiri sejenak di luar untuk melihatnya.

Komentar
Posting Komentar