Timnas Gagal Ke Piala Dunia, Tapi Ini Baru Awal
Seminggu ini, para fans Garuda tentu sangat kecewa dengan hasil yang didapatkan Timnas. Padahal, kita sudah selangkah lagi menuju Piala Dunia. Tapi meskipun kecewa berat, menurut saya ini tetap sebuah pencapaian yang luar biasa. Dari ronde 1 sampai ronde 4, perjalanan tim ini benar-benar luar biasa.
Saya selalu percaya bahwa tidak ada sesuatu yang instan. Jadi meskipun kecewa, saya tidak terlalu kaget dengan hasilnya. Karena memang kita baru memulai. Tapi di sisi lain, kita juga tidak boleh terlalu lama “berproses”.
Skuad yang ada sekarang adalah generasi terakhir pemain diaspora Belanda, ditambah Audero. Mau tidak mau, Piala Dunia 2030 bisa jadi kesempatan terakhir kita untuk tampil di sana. Pilihannya hanya dua: lolos, atau mungkin tidak akan pernah.
Kegagalan kali ini harus dijadikan bahan untuk berbenah. Mulailah dari sistem liga kita. Pemain asing, terutama striker seperti Alex Martin, sebaiknya dipertahankan klub minimal lima tahun. Tujuannya agar bisa dirayu untuk dinaturalisasi, setidaknya sebagai pelapis, karena kedalaman striker kita masih sangat kurang.
Seperti dua pertandingan terakhir ini, saat Ole atau Ragnar tidak fit 100%, kita praktis tidak punya lagi striker tajam. Karena itu, sebaiknya juga ada batas usia untuk pemain asing yang pertama kali datang ke liga maksimal 25 tahun misalnya. Dengan begitu, kalau nantinya ada rencana untuk naturalisasi, mereka masih cukup muda dan bisa dipakai 4–5 tahun ke depan.
Sekarang, terlalu banyak striker asing yang sudah jompo. Saat dinaturalisasi pun, performanya sudah jauh menurun. Sementara itu, striker lokal justru mati kariernya karena minim kesempatan bermain. Ini jelas kerugian besar.

Komentar
Posting Komentar