Penurunan Fungsi Jalan

Beberapa hari lalu di salah satu grup WA (Whats App) kantor saya, atasan sempat bilang bahwa dalam SK jalan ada penurunan fungsi jalan. Spontan saya menjawab bahwa penurunan fungsi jalan itu biasanya terjadi karena penurunan aktivtias kawasan yang dihububungkan. Dari situ saya ingin menuangkan pikiran saya ini ke dalam tulisan.

Secara aturan, fungsi jalan memang sudah ditetapkan lewat SK pemerintah. Jadi selama SK-nya belum diubah, status jalan itu tetap sama. Mau kondisi di lapangan berubah seperti apa pun, akan tetap sama. 



Tapi menurut saya, secara aktual, fungsi jalan sebenarnya sangat bergantung pada kawasan yang dihubungkannya.
Misalnya, jalan arteri primer biasanya dibuat untuk menghubungkan 2 kawasan strategis nasional. Kalau salah satu kawasan itu menurun aktivitasnya atau bahkan mati, sebenarnya secara aktual fungsi jalan yang menghubungkannya juga bisa ikut turun fungsinya. Jadi bukan cuma karena jalannya rusak atau tidak terawat, tapi karena kawasan yang dilayaninya sudah tidak seaktif dulu lagi menjalankan fungsi utamanya.
Jadi, penyebab paling umum dari turunnya fungsi jalan adalah penurunan aktivitas dari fungsi utama kawasan itu sendiri. Ada banyak alasan kenapa hal ini bisa terjadi. Bisa karena kawasan itu kehilangan peran strategisnya, atau karena kawasan tersebut berkembang ke arah yang tidak sesuai dengan fungsi awalnya.




Contohnya, ada jalan yang awalnya dibangun untuk menghubungkan pelabuhan dengan kawasan industri, dua duanya adalah KSN. Tapi lama-lama pada kawasan industri itu, muncul banyak aktivitas lain seperti pusat perbelanjaan, perumahan, dan kafe yang malah lebih mendominasi kawasan itu. Lalu lintas makin padat, truk-truk industri susah lewat, dan akhirnya beberapa pabrik mulai pindah ke lokasi lain yang lebih strategis dan efisien buat mereka. Lama kelamaan, aktivitas utama kawasan pun akhirnya menurun atau bahkan mati. Akibatnya jalan yang dulunya arteri utama jadi kehilangan perannya.

Dari situ kita bisa lihat bahwa fungsi jalan bisa turun atau naik tergantung bagaimana kawasan itu berjalan sesuai fungsinya. Fungsi jalan itu ibarat cermin dari fungsi kawasan yang dihubungkannya. Kalau fungsi dari kawasan berkembang baik, fungsi jalan makin vital. Tapi kalau fungsi kawasan meredup, maka fungsi jalan pun seharusnya juga ikut turun derajat.

Sebagai tambahan, mungkin sudah saatnya perencanaan jaringan jalan dalam rencana tata ruang dilakukan dengan lebih memperhatikan kondisi aktual di lapangan, dan tidak semata-mata berpatokan pada SK Jalan yang ada. Dengan demikian, SK Jalan lah yang nantinya disesuaikan kembali agar selaras dan mendukung arah kebijakan yang ditetapkan dalam rencana tata ruang.

Karena bagaimanapun juga, rencana tata ruang memiliki pandangan yang lebih komprehensif terhadap kebutuhan wilayah, karena mampu melihat keterkaitan antar kawasan dari kacamata yang lebih makro dan berkelanjutan.

Semoga Bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tabel ITBX dalam RDTR: Jantung Pengaturan Tata Ruang

Centre Point of Indonesia (CPI) Makassar

Pemandangan yang Menjauh