Mencari Validasi Bukan Hal yang Buruk

Kita sering mendengar nasihat yang berbunyi, “jangan jadi orang yang haus validasi, atau stop mencari validasi orang lain.” Kedengarannya memang bijak, seolah-olah mencari pengakuan dari orang lain itu hal buruk dan harus dihindari. Tapi menurut saya, tidak sepenuhnya begitu. Manusia pada dasarnya tumbuh lewat interaksi sosial. Dan di sanalah validasi orang lain berperan sebagai cermin, yang membuat kita bisa melihat diri sendiri dengan lebih jelas, mengenali apa yang sudah baik dan apa yang perlu diperbaiki.

Tapi tentu saja, rasa haus validasi itu harus punya batas. Saya sering membayangkannya seperti api. Api bisa menghangatkan, menerangi, dan memberi energi. Tapi kalau dibiarkan liar, ia bisa membakar habis dan merusak.

Saya kasih contoh seorang pemain bola. Kalau dia tidak punya rasa haus validasi sama sekali, ia mungkin akan puas dengan kemampuannya sekarang. Dia bisa bersikap masa bodoh, belatih dan bermain dengan caranya sendiri yang dapat membuatnya tidak berkembang dari pemain lain, bahkan hingga menutup telinga dari kritik. Akhirnya, performanya akan stagnan dan akan sulit bagi dirinya untuk menjadi pemain bola yang punya kelas.

Sebaliknya, jika pemain bola itu memiliki dorongan untuk mendapatkan pengakuan yang tulus dari pelatih, rekan setim, maupun supporter, ia akan lebih bersemangat berlatih, lebih terbuka terhadap masukan, dan berusaha menampilkan performa terbaiknya. Ia juga akan lebih menyadari kelemahan yang perlu diperbaiki, hal-hal yang harus ditingkatkan, serta apa saja yang tidak perlu dilakukan agar dapat lebih efisien dalam bermain. Dorongan untuk divalidasi inilah yang membuatnya terus berkembang dan semakin tajam dalam mengasah skillnya.




Namun, di sisi lain, haus validasi yang berlebihan juga berbahaya. Kalau seseorang terlalu menggantungkan dirinya (bahkan kebahagiaannya) pada pengakuan orang lain, ia akan mudah kecewa ketika dia tidak mendapat tepuk tangan atau pujian dan mungkin juga akan menjadi stress berat setiap kali mendapatkan kritik. Lama-lama dia bisa kehilangan jati diri, frustasi, hidup hanya untuk memenuhi standar orang lain, dan melupakan tujuan dan nilai dirinya sendiri. 

Beberapa orang bahkan sampai harus membuat kepalsuan-kepalsuan atau melakukan suatu hal yang sifatnya pencitraan semata karena kebutuhan  yang terlalu tinggi pada pengakuan orang lain. Jatuhnya adalah menjadi obsesi yang dapat menghancurkan diri sendiri.

Jadi menurut saya, kuncinya bukan menghindar mencari validasi orang lain, melainkan mengelolanya. Tidak menganggap bahwa validasi eksternal itu tidak penting, namun bukan juga menganggapnya kebutuhan mutlak. Jadikan validasi dari luar sebagai bahan bakar untuk berkembang, tapi jangan lupakan validasi dari dalam diri sendiri. Ketika kita bisa menghargai usaha kita sendiri sambil tetap terbuka terhadap masukan orang lain, rasa haus validasi justru akan menjadi energi positif yang membuat pekembangan diri seseorang jauh lebih baik.

Api butuh wadah agar berguna. Kompor membuat api bisa dipakai masak, obor membuat api bisa jadi penerang, tungku membuat api jadi penghangat. Sama halnya dengan validasi, ia butuh wadah berupa kesadaran diri agar tidak jadi liar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tabel ITBX dalam RDTR: Jantung Pengaturan Tata Ruang

Centre Point of Indonesia (CPI) Makassar

Pemandangan yang Menjauh