Banjir Bukan Cuma Soal Salah Siapa
Kalau soal banjir, tidak bisa langsung tunjuk orang sembarang lalu bilang itu penyebabnya. Masalah ini terlalu rumit. Banyak hal saling sambung. Tidak cukup bilang karena hujan deras, atau karena ada sampah, lalu selesai. Masalah banjir itu dari dulu sampai sekarang, tetap begitu terus, karena penyebabnya datang dari berbagai arah.
Kadang orang suka lupa, pemerintah juga kerja dengan segala keterbatasan. Anggaran terbatas, alat juga belum semua canggih, belum lagi wilayahnya luas dan masyarakatnya banyak. Mau atur semua, tidak gampang. Sementara perkembangan kota makin cepat. Dulu waktu bangun saluran air, mungkin penduduknya belum sebanyak sekarang. Lahan terbuka masih banyak. Sekarang sudah jadi perumahan, jadi ruko, jadi gedung. Tidak ada tempat lagi untuk air masuk ke tanah.
Tapi bukan hanya soal pemerintah. Masyarakat juga punya andil. Masih banyak yang buang sampah sembarangan. Di got, di sungai, di pinggir jalan. Sampah itu nanti menyumbat aliran air. Pas hujan turun, air tidak bisa jalan, akhirnya tergenang. Lama-lama naik ke rumah, jadi banjir. Padahal ini hal dasar yang sebenarnya bisa dicegah.
Ada juga soal tempat tinggal. Banyak warga yang tinggal di pinggir sungai, di rawa, di bawah jembatan. Tempat yang sebenarnya fungsinya untuk resapan air. Tapi karena tidak ada pilihan lain, mereka terpaksa tinggal di sana. Rumah murah susah dicari. Mau pindah ke tempat lebih tinggi, tidak mampu. Akhirnya pas banjir datang, mereka paling duluan kena.
Lalu ada juga faktor alam. Beberapa daerah memang letaknya rendah. Jadi memang sudah rawan tergenang kalau hujan lebat. Apalagi kalau air dari daerah lain turun ke sana. Sungai penuh, air meluap, masuk ke jalan, ke rumah-rumah. Ini bukan salah siapa-siapa. Cuma kondisi alam begitu. Tapi tetap harus diantisipasi. Harus ada strategi yang bisa menyesuaikan dengan kondisi itu.
Yang kadang bikin kesal, orang cuma tahu menyalahkan. Salahkan pemerintah, salahkan warga, salahkan cuaca. Tapi tidak ada yang mau refleksi, sebenarnya apa yang bisa dibenahi. Padahal ini masalah bersama. Bukan cuma tugas satu pihak saja. Kalau satu sisi saja yang kerja, sementara yang lain cuek, hasilnya juga tidak akan maksimal.
Lihat Jakarta, Surabaya. Sudah punya teknologi bagus. Drainase besar, pompa air, sistem sampah lebih modern. Tapi tetap juga banjir. Artinya, teknologi tidak cukup kalau faktor lainnya tidak berjalan baik. Kalau hulu tidak diurus, sampah tetap dibuang sembarangan, pembangunan tidak teratur, tetap saja air meluap. Jadi ini bukan soal kota besar atau kecil. Semua bisa kena.
Dari dulu sampai sekarang, banjir itu seperti cerita yang tidak pernah selesai. Pemerintah ganti, pejabat ganti, masyarakat berubah, tapi banjir tetap datang. Karena memang sistemnya belum menyatu. Masih banyak yang jalan sendiri-sendiri. Hulu dan hilir tidak terhubung. Informasi tidak nyambung. Koordinasi kurang. Semua saling tunggu.
Tapi bukan berarti harus menyerah. Setiap orang punya peran. Pemerintah harus terus tingkatkan sistemnya. Masyarakat harus sadar dan ikut jaga lingkungan. Sekolah-sekolah bisa ajarkan anak-anak soal pentingnya buang sampah pada tempatnya, soal pohon, soal air. Media bantu sebarkan informasi yang bermanfaat. Bukan cuma cari sensasi.
Banjir tidak bisa hilang sepenuhnya. Tapi dampaknya bisa dikurangi. Itu kalau semua mau kerja sama. Bukan saling tuduh. Kalau terus saling menyalahkan, banjir tetap datang, dan kita tetap sibuk cari siapa yang salah, bukan cari jalan keluar.

Komentar
Posting Komentar