Jadilah Anak Nakal Sekaligus Orang Tua Kejam ke Diri Sendiri

"Jadilah Anak yang Nakal Sekaligus Orang Tua yang Kejam ke Diri Sendiri"

Kalimat ini kelihatannya keras, tapi sebenarnya penuh arti. Ini bukan ajakan untuk berbuat salah, tapi lebih ke cara pandang hidup. Kalau dipikir baik-baik, anak yang nakal itu biasanya kreatif, aktif, tidak takut salah. Dia banyak tanya, banyak mencoba, tapi kadang juga bikin repot. Tapi dari situlah orang belajar. Tidak semua hal harus patuh terus, tidak semua aturan cocok untuk semua orang. Ada saatnya orang perlu langgar aturan yang menghambat diri berkembang. Di situlah kenakalannya masuk, bukan berarti jahat, tapi berani.

Kalau dalam urusan diet contohnya, kadang orang terlalu ikut aturan orang lain. Harus begini, harus begitu. Padahal tubuh tiap orang beda-beda. Kalau kita cuma patuh buta, akhirnya bosan, stres, dan gagal. Jadi kadang memang harus nakal. Coba-coba metode sendiri. Gabung-gabung makanan yang cocok. Langgar pola yang bikin sengsara. Tapi tetap sadar tujuan. Nakal yang sadar, bukan asal suka-suka. Karena kalau tidak pernah coba cara lain, tidak akan tahu mana yang paling cocok.




Begitu juga olahraga. Banyak yang ikut-ikut program sana-sini, ikut tren, tapi tidak bertahan lama karena tidak cocok. Orang yang nakal itu biasanya tidak mau disetir. Dia cari cara sendiri. Kadang orang lain bilang itu tidak efektif, tapi kalau dia konsisten, hasilnya lebih nyata. Dia olahraga dengan cara yang dia suka, bukan karena disuruh. Itu semua karena dia tidak patuh sama aturan yang tidak cocok buat dirinya. Tapi dia tetap disiplin dan konsisten di cara dia. Di situlah bagian “orang tua yang kejam ke diri sendiri” masuk.

Orang tua yang kejam itu bukan yang tidak sayang. Justru karena sayang, dia tidak mau anaknya manja. Sama halnya kalau kita berlaku sebagai orang tua ke diri sendiri. Jangan terlalu lembek. Kalau malas datang, paksa diri bangun. Kalau bosan, jangan langsung menyerah. Kalau gagal, suruh ulang lagi. Kita harus tega. Jangan bilang “tidak apa-apa” terus. Karena kalau terus dimanjakan, sampai kapan pun tidak maju. Dalam belajar, misalnya, kalau kita tunggu semangat baru belajar, itu tidak akan datang-datang. Tapi kalau kita paksa duduk, baca, pahami, meski kepala berat, lama-lama terbiasa. Karena kita perlakukan diri kita seperti orang tua yang kejam, yang tahu kapan harus keras, kapan harus tahan.

Dalam kerja pun begitu. Kalau kita cuma kerja sesuai jam, sesuai tugas, tidak akan berkembang. Kadang harus ambil tanggung jawab lebih. Coba hal baru. Pelajari bidang yang bukan tugas langsung. Itu “nakal”. Tapi dari situ, kita punya nilai lebih. Dan saat lelah datang, kita harus tega ke diri sendiri. Selesaikan dulu baru istirahat. Jangan dikit-dikit cari alasan. .

Quote ini bukan tentang jadi orang keras kepala tanpa arah. Tapi tentang seimbang. Berani langgar aturan kalau perlu, tapi tetap bertanggung jawab. Karena hidup butuh dua sisi itu. Kita harus liar dalam mencari jalan, tapi kejam dalam mendidik diri. Baru bisa tumbuh kuat. Nakal dalam eksplorasi, kejam dalam kontrol.

Kalau kamu sudah bisa jadi anak yang nakal dan orang tua yang kejam ke diri sendiri, berarti kamu sudah siap jalani hidup dengan lebih kuat. Karena kamu tidak tunggu dimotivasi, tidak tunggu dikasihani. Kamu sendiri yang jadi pemberontak dan sekaligus pelatih dalam hidupmu. Dan itu yang bikin kamu terus berkembang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tabel ITBX dalam RDTR: Jantung Pengaturan Tata Ruang

Centre Point of Indonesia (CPI) Makassar

Pemandangan yang Menjauh