Perjalanan Mendampingi Investor Tiongkok
Hari Rabu pagi, tanggal 23 April 2025, saya dapat kabar dari kepala bidang di kantor. Katanya saya ditugaskan untuk mendampingi investor dari Tiongkok yang mau datang ke Pinrang. Tugas ini berlangsung tiga hari, mulai Kamis sampai Sabtu. Sore harinya, kami langsung dikumpulkan untuk rapat persiapan.
Rapat itu digelar di kantor Bupati Pinrang. Pimpinannya langsung Bupati Pinrang sendiri. Di situ kami diperkenalkan ke para investor yang datang. Mereka ini orang-orang penting dari perusahaan besar di Tiongkok. Dari gaya dan caranya, kelihatan juga kalau beberapa dari mereka ini masih keluarga pemilik perusahaan.
Dalam rapat itu, para tamu menyampaikan rencana mereka. Kalau cocok, mereka mau bangun pabrik daur ulang di Pinrang, dan produksinya akan diekspor ke berbagai negara. Kepala Dinas DPMPTSP Pinrang juga paparkan tempat-tempat yang akan kami kunjungi, sambil mengingatkan supaya kami semua kumpul di kantor DPMPTSP Pinrang jam 8 pagi keesokan harinya.
Keesokan pagi, saya datang lebih cepat, sekitar setengah delapan. Sudah ada beberapa orang di sana. Sambil menunggu yang lain, kami disuguhi kopi susu hangat. Setelah semua kumpul, sekitar jam 9, kami baru berangkat. Tapi sebelum jalan, Kepala Dinas kasih tahu ada perubahan. Jadwal kunjungan dipercepat, dari yang rencana tiga hari jadi dua hari saja. Katanya, para tamu ini harus pulang lebih cepat.
Tujuan pertama langsung ke Pelabuhan Muara Bombang. Seperti yang saya kira sebelumnya, investor asing biasanya memang mau lihat dulu pelabuhan atau bandaranya. Di Muara Bombang, mereka keliling mengecek fasilitas. Tapi dari raut wajah mereka, kelihatan kurang puas. Serptinya pelabuhan ini dinilai masih terlalu kecil untuk kebutuhan mereka.
Lanjut, mereka dibawa ke Pelabuhan Pusat Pelelangan Ikan (PPI) di Lero. Menurut saya, pelabuhan ini lebih bagus, dermaganya juga lebih kokoh. Tapi setelah keliling, para investor juga merasa pelabuhan ini belum cukup besar.
Akhirnya, Kepala Dinas sarankan ke Pelabuhan Parepare. Tapi sebelum ke sana, kami pulang dulu ke Pinrang, makan siang, sholat, dan istirahat sebentar.
Setelah istirahat, perjalanan lanjut lagi. Dalam perjalanan ke Parepare, kami sempat singgah di Kawasan Peruntukan Industri yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Pinrang. Di sana, kami tunjukkan lahan seluas 184 hektar yang bisa dipakai sama mereka. Respon dari mereka cukup baik, walaupun sebenarnya mereka cari lahan yang lebih besar, sekitar seribu hektar.
Sampai di Pelabuhan Parepare, para investor langsung kelihatan lebih puas. Pelabuhan ini memang lebih besar, fasilitasnya lengkap, dikelola profesional, mirip-mirip dengan Pelabuhan Makassar. Mereka bilang pelabuhan ini cocok, tapi waktu berbincang dengan staf Pelabuhan, ternyata jadwal di Pelabuhan Parepare sangat padat.
Para investor kemudian minta supaya bisa dibantu dapat slot kapal. Bahkan mereka sempat bilang, kalau perlu mereka akan bantu sumbang crane tambahan untuk memperlancar operasional pelabuhan. Negosiasi soal ini langsung diurus oleh pimpinan investor dan pihak Pelabuhan.
Akhirnya, perjalanan hari itu selesai. Walaupun hasil akhirnya belum jelas, saya pribadi merasa ini pengalaman yang sangat berharga. Saya bisa lihat langsung bagaimana proses mendampingi calon investor besar, sekaligus belajar banyak soal dunia investasi dan bisnis.
Saya teringat kata almarhum ayah saya. Beliau selalu bilang, kalau mau ekonomi daerah itu maju, kuncinya ada di transportasi. Pelabuhan, bandara, sama jalan tol bukan cuma bangunan fisik, tapi pembuluh darah ekonomi yang bikin arus barang, orang, sama modal lancar. Kalau pelabuhan sama bandara tidak ada, daerah susah akses ke pasar luas dan susah juga tarik investor asing. Jadi tidak heran jika investor tiongkok ini yang pertama mereka cek pasti adalah pelabuhan.

Komentar
Posting Komentar