Hidup Kita Bukan Hanya Tentang Kebahagiaan

Di teras rumah kos, sambil menikmati Ice Americano alias Es Kopi Hitam, saya kepikiran untuk menulis ini. Berawal dari overthinking setelah mendengar ceramah tarawih tadi tentang hidup sebagai ujian, ditambahkan dengan pemikiran saya yang sudah lama tentang kebahagiaan, akhirnya saya jadi terinspirasi untuk menuangkannya dalam tulisan.




Banyak orang berpikir bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah untuk meraih kebahagiaan. Setiap orang berusaha mengejar kesenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan. Dalam setiap doa yang dipanjatkan, pasti terselip harapan agar hidup bahagia di dunia ini. Namun, sering kali kita bertanya-tanya, mengapa kebahagiaan di dunia itu terasa begitu sulit didapatkan? Kalaupun datang, sering kali hanya sesaat dan cepat menghilang. Sebanyak apa pun hal yang membuat kita bahagia, pada akhirnya kita tetap merasa ada yang kurang.

Ada banyak orang yang sudah kaya raya, bahkan menjadi miliarder, tetapi tetap merasa tidak bahagia. Saya sendiri punya seorang teman lama yang sekarang boleh saya bilang sudah jadi orang kaya. Suatu hari, dia bercerita kepada saya tentang perasaannya yang hampa. Sambil bercanda, saya mengatakan bahwa bagaimana bisa dia tidak bahagia, sementara dia bisa mendapatkan apa saja yang saya inginkan saat ini. Namun, dia justru merasa sebaliknya. Dia sering merasa cemas, gelisah, overthinking, stres, bahkan mudah tersinggung oleh perkataan orang lain. Hal-hal kecil yang dikatakan orang kepadanya bisa terus menghantui pikirannya selama berhari-hari. Kekayaan yang dimilikinya ternyata tidak menjamin kebahagiaan.

Dari pengalaman itu, saya mulai menyadari bahwa mungkin kita memang tidak hidup di dunia ini untuk sekadar bahagia. Hidup ini adalah ujian. Wajar jika kita sering merasa tidak puas, kecewa, atau bahkan menderita. Tidak semua yang kita inginkan bisa terwujud, dan tidak semua yang kita rencanakan berjalan sesuai harapan. Justru di situlah letak ujiannya. Jika kita memahami bahwa hidup ini adalah sebuah ujian, kita tidak akan terus-menerus mengejar kebahagiaan yang sifatnya sementara. Sebaliknya, kita akan lebih fokus pada bagaimana menjalani hidup dengan sebaik mungkin.

Ujian dalam hidup datang dalam berbagai bentuk. Mulai dari kegagalan, kehilangan, kesedihan, kekecewaan, rasa cemas, dan bahkan rasa sakit. Tidak perlu takut jika itu datang, karena semua orang pun mengalaminya. Dan perasaan-perasaan itu yang akan mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan. 

Jadi, daripada kita terus-menerus mengejar kebahagiaan yang belum tentu bisa kita genggam, lebih baik kita fokus untuk terus belajar dan berkembang. Kita harus memperkaya diri dengan pengalaman, memperbaiki kesalahan, menambah ilmu, dan meningkatkan kualitas diri. Kita juga harus bisa menerima segala emosi yang datang dalam hidup ini, baik itu senang, sedih, marah, takut, malu, ataupun cemas. Semua perasaan itu adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus kita jalani.

Ketika kita mulai belajar, mulai terbiasa dan mulai berdamai dengan segala perasaan tersebut, kita akan lebih siap menghadapi segala ujian hidup selanjutnya. Dan lambat laun itulah yang membuat kita menjadi lebih dewasa dan lebih bijaksana. Ketika kita lebih dewasa dan lebih bijaksana, kita mulai tidak lagi mencari kebahagiaan, tetapi kita tahu bahwa kita akan menemukannya dalam proses menjalani hidup itu sendiri. Kebahagiaan sejati bukanlah sesuatu yang harus kita kejar mati-matian, tetapi sesuatu yang akan datang dengan sendirinya ketika kita sudah siap menerimanya.

Dengan demikian, kita akan lebih memahami bahwa kebahagiaan bukanlah tentang memiliki segalanya atau terpenuhinya segala kehendak kita, melainkan tentang kemampuan kita menerima kehidupan dengan segala warna-warninya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tabel ITBX dalam RDTR: Jantung Pengaturan Tata Ruang

Centre Point of Indonesia (CPI) Makassar

Pemandangan yang Menjauh