Pertanyaan Kepada Seorang Teman

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat ngobrol sama teman saya. Saya iseng nanya, “Sebenarnya, apa sih cita-cita kamu dari dulu?”

Dia tersenyum dan menjawab, “Sebenarnya, saya cuma pengen tinggal di desa kecil, punya rumah, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan modern. Hidup sederhana sama keluarga kecilku, punya kebun, dan bisa makan nasi hangat buatan istri bareng anak-anak, setelah seharian lelah berkebun. Tapi, entah kenapa, kok saya malah bisa terjebak di kehidupan yang seperti ini.”

Setelah itu, dia tertawa. Saya ikut tertawa juga. Jawabannya memang terdengar lucu, tapi kalau dipikir-pikir, mungkin itulah yang sebenarnya disebut kebahagiaan. Bukan kebahagiaan semu yang sering kita kejar sebagai manusia modern. Kebahagiaan yang dibungkus ambisi mengumpulkan harta, status, dan validasi dari orang lain. Termasuk saya juga, mungkin.

Coba bayangkan, buat apa sebenarnya kita capek-capek mengejar semua itu? Setelah kita meninggal, seberapa pun terkenalnya kita, hanya dalam beberapa bulan, nama kita akan dilupakan begitu saja. Orang-orang mungkin hanya akan ingat hal-hal yang kita tinggalkan, yang berguna buat hidup mereka. Tapi, jujur saja, mereka nggak akan merasa kehilangan.

Satu-satunya yang benar-benar akan merasakan kehilangan adalah keluarga kecil kita. Orang-orang yang setiap hari hidup bersama kita, tertawa bersama, melewati suka dan duka bersama. Kebahagiaan sederhana seperti itu yang kadang kita lupakan saat sibuk mengejar mimpi yang sebenarnya mungkin bukan keinginan kita dari awal.

Jadi, mungkin kebahagiaan itu bukan soal apa yang kita miliki, tapi dengan siapa kita berbagi. Dan kadang, cita-cita yang terdengar sederhana seperti teman saya itu, adalah bentuk kebahagiaan yang paling tulus dan nyata.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tabel ITBX dalam RDTR: Jantung Pengaturan Tata Ruang

Centre Point of Indonesia (CPI) Makassar

Pemandangan yang Menjauh