Dunia Tidak Punya Tanggung Jawab
Kemarin, saat sedang scroll Instagram, saya melihat sebuah video yang cukup menarik perhatian. Seorang anak SMA sedang tantrum di depan orang tuanya, menangis dan merengek karena tidak diberi mobil yang dia inginkan. Anak itu mencoba segala cara untuk memaksa keinginannya dikabulkan. Mengamuk, berguling-guling di lantai, bahkan membanting pintu.
Melihat video tersebut, saya jadi teringat masa SMP dan SMA saya dulu. Setiap kali saya meminta sesuatu kepada (alm.) bapak, jawabannya hampir selalu sama: "Tidak!" diiringi dengan nasihat panjang lebar. Apalagi jika yang saya minta adalah barang yang sedang tren tapi dianggapnya tidak bermanfaat. Omelannya bisa bertahan berhari-hari.
Namun, ada hal unik yang saya sadari setelah beberapa waktu. Setelah saya berhenti berharap dan melupakan permintaan saya, tiba-tiba Bapak membelikan apa yang saya minta itu. Bahkan, beberapa kali barang yang beliau berikan jauh lebih bagus dari yang saya inginkan.
Salah satu contohnya adalah PlayStation One, konsol game yang sangat populer saat saya SMP. Waktu itu, saya sangat menginginkannya, tapi permintaan saya langsung ditolak mentah-mentah dengan berbagai alasan. Saya kecewa, tentu saja, karena waktu itu PlayStation adalah barang impian saya.
Namun, setelah beberapa bulan, tanpa diduga, bapak membelikannya untuk saya. Tentu saya sangat senang. Saya langsung memeluk beliau sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih. PlayStation itu terasa jauh lebih istimewa karena saya tahu, ada proses panjang yang membuat saya lebih menghargainya.
Ketika dewasa, saya mulai memahami bahwa ini mungkin adalah cara beliau mendidik saya saat saya remaja. Bapak ingin mengajarkan bahwa tidak ada yang instan dalam hidup. Kita harus bersabar untuk mendapatkan sesuatu dan bisa ikhlas ketika keinginan kita tidak terpenuhi. Karena mungkin beliau paham, begitulah cara dunia akan memperlakukan saya, saat saya dewasa kelak.
Dunia ini, sebenarnya, tidak punya kewajiban untuk memberikan apa yang kita inginkan. Dunia hanya memberikan apa yang pantas kita terima. Jadi, jika ada sesuatu yang kita inginkan, kita harus memantaskan diri terlebih dahulu. Ini bukan proses yang singkat, tetapi butuh usaha, kesadaran, dan waktu.
Bahkan, jika kita mendapatkan sesuatu sebelum kita benar-benar siap, hal itu bisa menjadi bumerang di kemudian hari. Sebaliknya, meskipun banyak rintangan yang harus dihadapi, jika kita sudah layak dan pantas, apa yang kita inginkan biasanya akan datang dengan lebih mudah.
Jadi, daripada menyalahkan keadaan, orang lain, atau dunia saat keinginan kita belum tercapai, lebih baik kita introspeksi diri. Pada akhirnya, kebahagiaan dan pencapaian kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Jika kita melihat orang lain sudah memiliki sesuatu yang kita inginkan, sementara kita belum, jangan terburu-buru cemburu atau marah. Mungkin mereka memang sudah lebih pantas, sementara kita masih perlu waktu untuk memantaskan diri. Dengan cara berpikir seperti ini, kita akan menjadi lebih sabar, lebih kuat, dan lebih termotivasi untuk terus berkembang.
Dan siapa tahu, di masa depan, kita bisa mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang kita impikan hari ini.

Komentar
Posting Komentar