Jalanan Lebar di Makassar Tak Lagi Sepi Saat Lebaran

Saya termasuk orang yang jarang mudik. Hampir setiap tahun, saya merayakan Lebaran di Makassar. Dulu, momen Lebaran terasa begitu istimewa. Sekitar sepuluh tahun lalu, ketika hari raya tiba, jalanan di Makassar berubah drastis, dari hiruk-pikuk keseharian menjadi lengang yang menenangkan.

Kala itu, hampir semua orang memilih mudik ke kampung halaman. Jalanan yang biasanya padat, tiba-tiba menjadi kosong. Mall-mall pun sepi, serasa milik pribadi. Saya masih ingat betul bagaimana udara terasa lebih sejuk, dan pemandangan kota lebih bersih serta segar.

Bahkan, saya sering berjalan santai di Jalan Pettarani (jalan yang biasanya terkenal macet) tanpa melihat satu pun kendaraan melintas. Kota ini seperti kota hantu yang indah, bebas dari kemacetan dan kebisingan. Suasana seperti ini biasanya berlangsung sejak H-1 Lebaran hingga sekitar empat hari setelahnya. Setelah itu, hiruk-pikuk kota kembali seperti sediakala.

Namun, tahun ini saya dikejutkan oleh pemandangan yang berbeda. Setelah beberapa tahun tidak merayakan Lebaran di Makassar, saya mendapati jalanan tetap padat merayap, bahkan di hari raya. Tak ada lagi jeda ketenangan yang biasa saya nikmati.




Saya pun berdiskusi dengan teman saya mengenai fenomena ini. Kami sampai pada satu kesimpulan: kebiasaan mudik mulai berkurang. Generasi sekarang banyak yang lahir dan besar di Makassar. Kakek dan nenek mereka yang dulu menjadi alasan utama untuk pulang kampung, kini sudah tiada. Kampung halaman yang dulu ramai dikunjungi, kini tak lagi menjadi tujuan utama.

Banyak yang merasa Makassar adalah rumah mereka yang sesungguhnya. Jika dulu orang-orang pulang kampung untuk menjenguk keluarga, kini hubungan kekerabatan mulai renggang. Sebagian besar keluarga juga telah mencari nafkah dan menetap di Makassar, sehingga tak ada lagi urgensi untuk pulang.

Selain itu, faktor ekonomi juga berperan. Harga BBM yang terus naik, harga tiket pesawat, kapal, dan travel yang tidak semurah 10 tahun lalu membuat banyak orang berpikir dua kali untuk mudik. Biaya perjalanan yang tinggi bisa jadi menjadi alasan tambahan mengapa mudik kini bukan lagi pilihan utama.

Inilah yang mungkin menjadi penyebab utama perubahan ini. Orang-orang tak lagi melihat mudik sebagai keharusan, dan akibatnya, kota-kota besar seperti Makassar tetap ramai bahkan di hari raya. Tak ada lagi jalanan kosong yang sunyi, tak ada lagi momen menikmati kota tanpa kemacetan.

Namun, ini hanya opini pribadi saya dan teman-teman, berdasarkan pengamatan akan perubahan-perubahan yang kami rasakan.

Komentar